Konsep Multikultural

Menurut kamus sosiologi multikulturalisme adalah perayaan keberagaman budaya dalam masyarakat-keragaman yang biasanya dibawa melalui imigrasi. Inggris telah menjadi masyarakat multikultural kecuali untuk semacam keengganan atau ambivalensi. Kebijakan multikultural di Inggris terwujud dalam respon yang defensive terhadap migrasi dan bukan afirmasi yang positif terhadap keragaman budaya. Wacana multikultural memang muncul dari negara barat yang melihat tidak adanya perlakuan yang sama antara kaum minoritas dan mayoritas, sehingga diadobsi di masyarkat Indonesia sebagai indikator untuk menerapkan basis multikulturalisme. Karakteristik masyarakat Indonesia yang beranekaragam (suku, ras, agama, bangsa, jenis pekerjaan, dll ) merupakan identifikasi untuk menerapkan multikultural yang pada kenyataannya konsep multikultur telah dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Konsep multikultur dan pluralisme awalnya disamakan, hanya beberapa yang membedakan itupun letak perbedaanya masih belum jelas. Munculnya wacana multikulturalisme di Indonesia menyatakan terdapat perbedaan jelas antara multikultral dan pluralisme. Multikultural menekankan suatu konsep berbedaan dalam kesederajatan, sehingga apabila masyarakat telah dikatakan masyarakat multikultural dengan paham multikulturalisme maka tidak akan terjadi konflik. wawasan, pengethauan, kesadaran dan toleransi antara anggota masyarakat sudah tinggi sehingga berbanding terbalik dengan terjadinya konflik (minim konflik) khususnya yang berbau SARA. Berbeda konsep dengan Pluralisme yang  hanya sekedar tahu akan perbedan, namun belum menyadari adanya kesederajatan dan konflik yang mendalam (parah) dianggap hal yang wajar karena etnosentrime dan lebih mementingkan kepentingan-kepentingan tertentu yang bersifat pribadi baik dalam kelompok maupun individu.

 

Konsep multikultural ini, kemudian merambah ke ranah pendidikan. Tingkat Universitas atau sekolah tinggi telah banyak memperbincangkan mengenai multikultural dan telah masuk dalam mata kuliah. Pada jurusan sosiologi mata kuliah masyarakat multikultural dikaji secara khusus untuk benar-benar memahami karakteristik masyarakat Indonesia sehingga harapannya setelah memperoleh mata kuliah tersebut, mampu mengimplementasikan apa yang telah diperoleh dalam masyarakat. Pada jenjang Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan setaranya, Sekolah Menengah Atas (SMA) dan sederajatnya bila ditelaah secara detail sebenarnya nilai-nilai multikultural telah disampaikan namun belum secara spesifik. Hal demikian ditunjukan dalam pelajaran PKn yang diantaranya menjelaskan mengenai rasa toleransi. Kompetensi yang sesuai dilihat dari cakupan lingkungan peserta didik dalam ranah pendidikan formal bila dalam jenjang SD sekedar mengenal, SMP mulai memahami, SMA mengaplikasikan, dan tingkat sekolah tinggi mulai mengidentifikasikan dan menyumbang pemikiran untuk perkembangan suatu bangsa menuju ke taraf kehidupan yang lebih baik.

 

Dilihat dari sudut pandang calon pendidik, PR (Pekerjaan Rasional) yang utama bagi calon pendidik harus mampu mengemas dengan baik pembelajaran yang mampu mentrasfer value dan knowledge mengenai kompetensi multikultural, sehingga peserta didik baik dalam ranah pendidikan formal, informal, maupun nonformal menguasai apa yang telah mereka dapatkan dalam pembelajran. Hal yang tidak mudah, namun bukannya tidak bisa. Sejalan dengan perkembangan jaman, mudahnya informasi tersebar tidak menutup kemungkinan konsep masyarakat multikultural juga mampu terealisasikan dalam masyarakat Indonesia terutama dalam bidang pendidikan yang meupakan salah satu pacuan dalam meningkatkan kualitas bangsa.

 

Meninggalkan kawasan pendidikan dan melihat kawasan olah raga (SEA GAME) di Indonesia, sedikit mengintip karakteristik pemain di sepak bola yang menuju final bersama Malaysia terlihat banyak karakteristik pemain yang cukup menggambarkan konsep multikutur khususnya di Indonesia. Satu tim tersebut dianalogikan sebagai satu negara yang terdiri dari pemain sebagai masyarakatnya, ada Okto (10), Gunawan (13), Diego (24), dsb. Para pemain tersebut berlatar belakang berbeda bahakan kadang bertolak belakang dalam aspek budaya, agama, tempat lahir, tingkat kesejahteraan, dll. Namun, mereka sadar dalam satu tim (negara) harus berjuang dalam satu cita-cita yaitu menang dan membanggakan bangsa walaupun juga tidak menutup kemungkinan bersama harumnya nama negara nama individual juga akan melambung. Dilihat secara detail lagi, pemain tim sepak bola tersebut juga tidak semua berasal dan lahir di tanah Indonesia, contohnya Diego merupakan pemain yang naturalisasi dan bermain untuk Indonesia. Hal demikian dapat dilihat pada realita bahwa masyarakat Indonesia bukanlah hanya orang-orang yang lahir di indonesia, namun juga ada dari ras lain (ex:etnis cina yang banyak di Indonesia). Realita ini harus disadari dan semua masyarakat Indonesia baik penduduk asli maupun syah dalam persyaratan hukum harus berhak mendapatkan perlakuan yang sama.

 

Hiduplah Indonesia Raya,

Semoga Indonesia yang tercinta ini, tetap hidup dengan tersenyum menyongsong kehidupan yang mulia bersama-sama negara lainnya secara damai dan sejahtera.

I Love Indonesia, I aware Multiculture. :-D

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s